Mengapa Ada Orang yang Rajin Beribadah, Tapi Masih Terjebak Riba?
Tidak sedikit Muslim yang menjaga shalat lima waktu.
Rajin menghadiri kajian.
Gemar bersedekah.
Namun ketika berbicara tentang urusan harta, masih terjebak dalam:
- riba,
- transaksi yang tidak sesuai syariat,
- akad yang tidak jelas,
- atau praktik muamalah yang dilarang.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Salah satu penyebabnya adalah karena banyak orang memisahkan antara tauhid dan muamalah.
Padahal dalam Islam, keduanya tidak bisa dipisahkan.
Tauhid yang benar akan melahirkan muamalah yang benar.
Tauhid Bukan Hanya Tentang Ibadah Ritual
Ketika mendengar kata tauhid, sebagian orang langsung teringat pada:
- shalat,
- puasa,
- dzikir,
- doa,
- atau akidah.
Semua itu memang bagian dari tauhid.
Namun tauhid juga harus tercermin dalam setiap keputusan hidup, termasuk dalam mencari nafkah, berbisnis, berhutang, dan melakukan transaksi.
Tauhid berarti meyakini bahwa:
- Allah adalah satu-satunya Rabb,
- Allah adalah satu-satunya pemberi rezeki,
- Allah adalah satu-satunya yang berhak ditaati.
Jika keyakinan ini benar-benar tertanam, maka seorang Muslim akan berusaha menjalankan seluruh aspek kehidupannya sesuai petunjuk Allah, termasuk dalam urusan harta.
Rezeki Berasal dari Allah, Bukan dari Riba
Salah satu bukti lemahnya tauhid adalah ketika seseorang merasa bahwa rezekinya bergantung pada sesuatu yang diharamkan.
Misalnya:
- “Kalau tidak pakai riba, saya tidak akan punya rumah.”
- “Kalau tidak ikut sistem ini, saya akan tertinggal.”
- “Kalau tidak mengambil pinjaman berbunga, usaha saya tidak akan berkembang.”
Padahal Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
(QS. Hud: 6)
Ayat ini mengajarkan bahwa sumber rezeki adalah Allah.
Pekerjaan, pelanggan, perusahaan, atau lembaga keuangan hanyalah sebab.
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh mengorbankan syariat hanya karena takut kehilangan rezeki.
Tauhid Melahirkan Ketaatan
Orang yang benar tauhidnya akan selalu bertanya sebelum mengambil keputusan:
- Apakah Allah meridhainya?
- Apakah transaksi ini halal?
- Apakah akadnya sesuai syariat?
- Apakah ada unsur riba atau gharar?
Pertanyaan-pertanyaan ini lahir dari keyakinan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu benar-benar beriman.”
(QS. Al-Baqarah: 278)
Perhatikan bagaimana Allah mengaitkan perintah meninggalkan riba dengan keimanan.
Ini menunjukkan bahwa tauhid dan muamalah memiliki hubungan yang sangat erat.
Muamalah Adalah Bagian dari Ibadah
Sebagian orang menganggap ibadah hanya terjadi di masjid.
Padahal ketika seorang Muslim:
- berdagang dengan jujur,
- memenuhi akad,
- membayar hutang,
- menghindari riba,
- menjaga amanah,
semuanya juga merupakan bentuk ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dapat menjadi jalan menuju kemuliaan apabila dilakukan sesuai syariat.
Ciri Tauhid yang Tercermin dalam Muamalah
Tauhid yang benar akan terlihat dalam perilaku sehari-hari.
1. Lebih Takut Melanggar Syariat daripada Kehilangan Keuntungan
Seorang Muslim rela menolak keuntungan yang haram demi menjaga ridha Allah.
2. Mengutamakan Keberkahan daripada Banyaknya Harta
Ia memahami bahwa harta yang sedikit namun halal lebih baik daripada harta yang melimpah tetapi diperoleh melalui cara yang haram.
Allah berfirman:
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”
(QS. Al-Baqarah: 276)
3. Menjaga Amanah dalam Transaksi
Tidak menipu.
Tidak menyembunyikan cacat barang.
Tidak mengingkari janji.
Karena ia sadar bahwa Allah selalu mengawasi.
4. Bersabar Menempuh Jalan Halal
Tauhid membuat seseorang yakin bahwa rezeki tidak akan tertukar.
Karena itu ia tidak tergoda mengambil jalan pintas yang diharamkan.
Mengapa Muamalah Menjadi Ujian Tauhid?
Harta adalah salah satu ujian terbesar manusia.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah).”
(QS. At-Taghabun: 15)
Ketika dihadapkan pada pilihan antara:
- keuntungan atau kehalalan,
- kemudahan atau ketaatan,
- dunia atau akhirat,
di situlah kualitas tauhid seseorang terlihat.
Apakah ia lebih percaya kepada janji Allah atau kepada janji dunia?
Jangan Pisahkan Masjid dan Pasar
Dalam Islam, tidak ada pemisahan antara ibadah dan muamalah.
Masjid mengajarkan kita mengenal Allah.
Pasar menjadi tempat untuk membuktikan ketaatan kepada-Nya.
Karena itu seorang Muslim tidak cukup hanya dikenal sebagai orang yang rajin beribadah.
Ia juga harus dikenal sebagai:
- pedagang yang jujur,
- mitra bisnis yang amanah,
- pembeli yang adil,
- dan orang yang menjaga akad.
Memulai Hijrah dari Tauhid
Jika ingin memperbaiki kondisi finansial secara syar’i, maka mulailah dari memperbaiki tauhid.
Yakini bahwa:
- Allah adalah pemberi rezeki.
- Allah mengetahui kebutuhan hamba-Nya.
- Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang bertakwa.
Kemudian lanjutkan dengan memperbaiki muamalah:
- meninggalkan riba,
- memahami akad,
- memilih transaksi yang halal,
- dan menjaga amanah.
Hijrah finansial yang kokoh selalu dimulai dari keyakinan yang benar.
Penutup: Tauhid yang Benar Akan Mengubah Cara Kita Mencari Harta
Tauhid bukan hanya diucapkan dalam syahadat.
Tauhid harus tercermin dalam cara kita bekerja, berbisnis, berhutang, dan bertransaksi.
Ketika hati benar-benar yakin bahwa Allah adalah pemberi rezeki, maka kita tidak akan rela mencari harta melalui jalan yang dimurkai-Nya.
Muamalah yang benar adalah buah dari tauhid yang benar.
Dan tauhid yang benar akan melahirkan kehidupan yang lebih tenang, lebih berkah, dan lebih dekat kepada ridha Allah.
Jika Anda ingin membangun kehidupan finansial melalui pembiayaan dengan akad yang jelas, transparan, dan sesuai prinsip syariah tanpa riba, pelajari lebih lanjut di:
👉 Kredit Syariah Tanpa Riba: https://solusihijrah.com
Karena hijrah finansial tidak dimulai dari mengganti produk keuangan semata, tetapi dimulai dari memperbaiki keyakinan kepada Allah dan mewujudkannya dalam setiap transaksi.