Katanya Syariah, Tapi Kok Mahal?

Fulan: “Saya ingin beli motor pakai cicilan tanpa riba di lembaga keuangan syariah. Tapi pas diitung-itung kok jatuhnya lebih mahal daripada kredit konvensional ya? Katanya SYARIAH, tapi kok MAHAL?”

 

Itulah si Fulan.

Pengennya beli produk yang halal dengan akad syariah tanpa Riba. 

Tapi… at the same time maunya murah bahkan gratis sekalian.

 

Di kepalanya ada keyakinan ngawur bahwa syariah itu gak boleh mahal. Kalo perlu gratis. 

Harus ikhlas. Gak boleh untung besar.

Untung bolehnya kecil aja. 

Ngawur banget in keyakinan si Fulan.

 

Jadi gini… 

Untuk memastikan suatu produk Halal, itu butuh standar operasional dan proses sendiri

 

Sehingga, Halal itu adalah sebuah value yang istimewa. 

Kalo mau dapet value itu tentu ada harganya. 

Ada rupa ada harga. Kan begitu.

 

Misal kamu beli HP yang punya kamera dengan kualitas yang sama dengan kamera profesional, dan punya spesifikasi tinggi lainnya.

Itu HP pasti Mahal harganya.

 

Kamu rela kan bayar semahal itu untuk dapat value se-gila itu?

Gak pake komplen, malah bangga kan? Dipamerin lagi…

 

Duh Fulan, lha kok untuk akad yang Halal, selamat dunia-akhirat kamu kok berat bener hatinya sih? 

 

Komplain sana sini sambil nyinyir, “syariah kok mahal?” 

Kesannya, kasih harga mahal adalah suatu dosa besar.

 

Tapi kalo akad non-Syariah yang murah atau bahkan mahal sekalipun, kamu rela beli tanpa banyak komplain. 

Inilah yang diistilahkan sebagai sebuah Paradox sikap dan perilaku.

 

Dalam syariat Islam tidak ada batasan dalam menentukan harga, selama tidak ada hal-hal yang membuatnya menjadi terlarang seperti Riba, Gharar, dan lainnva.

 

Jadi, selama harga yang dibebankan sesuai dengan value produk yang ditawarkan dan masih bisa diterima secara wajar oleh masyarakat, maka its fine.

 

Cicilan yang sesuai syariah itu memang terlihat lebih mahal, karena ada value yang bisa menghindarkan kamu dari dosa Riba.

 

Dalam cicilan syariah, tidak boleh ada tambahan (bunga) dalam bentuk apapun termasuk denda.

Sebagai kompensasinya, maka harga jualnya sedikit lebih mahal. 

That’s logic.

 

Demi sesuatu yang lebih bernilai akhirat, masa sih kamu perhitungan banget? Lebih milih melakukan Riba meskipun lebih murah, dibanding yang Syariah meskipun agak lebih mahal.

 

Dimana pengorbananmu? Katanya mau masuk surga?

 

Sumber: IG @mustikologi